Cerpen sedih | Ibuku terasayang

KUSEBUT DIA, IBUKU TERSAYANG

Oleh Leni Wahyoe Nengsih.
‘Masih terbayang, dipelupuk mata, kasih sayang bunda untuk anakmu, bercucuran airmatamu membesarkannya, tulus kasihmu tiada noda. Satu harapanmu, kan ku junjung tinggi, pesan tertanam, begitu haru, nyanyian nan syahdu mengantar tidurku, saat malam menyambut pagi. Oh bunda, biarkan ku menangis, agar hati ini semakin mengerti, lelap tidurmu dulu terganggu, tak terbalas kasih sayangmu’
**
Terbayang sesok Ibu yang tak pernah letih mengajarkanku tentang sebuah kehidupan yang sangat kejam ini. Lihatlah, sejak kecil, sejak aku tidak mengerti apa-apa, sejak aku masih berada dalam gendongannya, Ibu masih memberiku Cinta. Terbesit dalam hati kecilku, saat aku mulai merangkak berjalan dengan kakiku, ia menuntunku sampai aku terlatih untuk berjalan. Dahulu, ia menyuapkan nasi kemulutku, sampai detik ini, jika aku terjatuh sakit, Ibulah yang setia merawatku. Dengan ribuan kerikil menghujamnya, dengan gemuruh ombak yang menerjang hidupnya. Ibu masih setia memelukku dengan hangat. Dia rela berjalan diatas bara api yang panas, demi untuk membesarkan anaknya.
Saat sang Ayah pergi meninggalkan dunia ini, Ibu senantiasa berusaha tegar meski ia harus menjadi Ibu sekaligus Ayah untukku.
***
"Kelak, aku akan menjadi orang yang membanggakan ibu..." Ucapku lirih saat melihat Ibu yang tertidur.

Lihat, wajahnya tak lagi muda. 


Kulitnya sudah mulai keriput. Ingin sekali keningku mencium kaki Ibu. Bertekut lutut untuk Ibu, karena sampai detik ini, aku belum bisa membalas semua jasa-jasa Ibu.
"Uhuk..Uhuk.." Terdengar suara batuk keluar dari mulut Ibu, Ibu terbangun dari tidurnya. Lalu, ibu melihatku yang saat ini duduk ditepi ranjangnya.
"Nak? Kenapa kamu disini? Kamu belum tidur?" Tanya Ibu.
"Belum, aku ingin tidur bersama ibu malam ini," Ucapku.
"Sini nak, uhuk-uhuk-uhukk" Ucap Ibu kembali batuk, kali ini batui ibu mengeluarkan darah.
"Ibu? Ibu sakit? Ini darah" Ucapku khawatir melihat kondisi ibu yang sakit seperti ini.
"Tidak nak, ibu hanya sakit biasa. Besok juga sudah sembuh batuk ibu" Ibu selalu saja menyembunyikan rasa sakitnya dihadapanku.

**
Aku merindukan kenangan masa kecilku bersama ibu, dia memberiku segalanya, Dia yang mengajarkan aku berjalan. Dan, dia adalah orang pertama yang membantuku berdiri saat aku terjatuh. Ibu, bagaimana caranya agar aku bisa membahagiakanmu, hatiku sangat menyayangimu, bahkan airmatalah yang mampu mengungkapkan rasa sayang yang tidak bisa aku deskripsikan melalui rangkaian kata-kata yang penuh cinta. Singkatnya, aku hanya ingin kau bahagia menikmati masa tuamu, kalau perlu aku akan mengukir senyum untuk Ibu. Agar ibu selalu bahagia. Malam ini aku tertidur dipangkuan hangat Ibu. Dia mengelus lembut rambutku, dan bersenandung membuatku terlelap.
**
Esok hari, saat sang mentari terbit diupuk timur, terlihat ibu yang sudah siap untuk bekerja kekebun yang ibu sewa dari tetangga. Aku sempat berfikir, mungkin rumput tetangga lebih hijau, tapi buah dikebun kita jauh lebih manis. Ya! Kehidupanku sangat manis, karena Ibu.
***
Bukan cuma aku, semua orang memiliki ibu. Mungkin bedanya, Aku tidak merasakan sentuhan kasih sayang Ayah. Karena, Tuhan lebih dulu memanggil Ayah. Biarlah Ayah bahagia disyurga sana. Biar aku menjalani kehidupanku walau hanya memiliki Ibu.
Karena Ibu sayang padaku, mengasihiku, mencintaiku. Bahkan, tidak pernah terbesit bagi segelintir orang, Seorang Ibu sudah mencintai dan menyayangi anaknya walaupun belum mengenal Rupa, walaupun sang anak masih dalam kandungan. Seorang ibu mengenalkan kehidupan saat sang anak masih dalam kandungan. Sang Ibu sangat menyayangi anaknya sebelum anaknya ada didunia ini dan masih dalam kandungan. Kemudian, sang ibulah yang menantikan kehadiran anaknya lahir. Saat lahir, ia mulai mengenal Rupa wajah anaknya, lalu membesarkannya penuh cinta.
**
"Jauh sebelum aku dilahirkan, saat aku masih dalam kandungan, Saat ibu tak mengenal Rupaku, dia begitu menyayangiku, bahkan menantikan aku lahir kedunia ini. Istimewa bukan?" Ucapku dalam hati saat melihat ibu yang sedang berkebun.
**
Aku tidak bisa membayangkan, saat dimana Tuhan akan memanggil Ibu? Siapa lagi yang akan menyayangiku seputih dan setulus kasih yang ibu berikan untukku. Apakah jodohku nanti akan mencintaiku sama besarnya seperti ibu mencintaiku? Entahlah.-
Untuk saat ini, selama ibu masih ada disampingku, menemani hari-hariku. Aku akan selalu membuatnya bahagia. Ibu sempat berkata "Ibu tak menginginkan banyak darimu, ibu hanya ingin kamu menjadi anak yang baik, dan ibu akan bangga jika kamu tumbuh menjadi anak yang baik, Ibu akan senang karena ibu akan merasa kalau ibu berhasil membesarkanmu dengan penuh cinta".
Ya, kebahagiannya cukup sederhana. Aku tidak boleh mengecewakan ibu walau sejengkal pun, aku tidak boleh menggores hati ibu walau secuil Upil, karena ibu aku akan tumbuh menjadi anak baik. Aku akan berusaha untuk itu, agar Ibu senang dan bangga memiliki anak sepertiku.
Biarkan burung camar menari indah diaras deru nya air, Biarkan elang menari diatas awan, biarkan ayam saling berkokok dengan kawannya, Biarkan Cinta tumbuh didalam lubuk hati yang terdalam. Dan, Biarkan aku mengukir senyum untuk Ibu.

‘Tiada yang lebih indah dari kasih sayang ibu’

END
FOLLOW my Wattpad >> @mrsleni
Baca juga artikel lainnya!

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Silahkan berkomentar tetapi jangan spam
EmoticonEmoticon