Setangkai Angrek Yang Layu.
Oleh: Leni Wahyu Nengsih
Saat aku mencoba untuk melupakannya, namun tetap saja semua itu masih terngiang dalam fikiranku, semuanya terekam jelas dan mencekam, saat kedua orangtuaku meninggalkanku sendirian disebuah panti asuhan.
Ya! Orangtuaku menitipkan aku kepanti asuhan saat umurku 7 tahun. Awalnya aku berfikir bahwa kedua orangtuaku adalah orangtua yang tega membuang anaknya ke panti asuhan.
Namun, saat usiaku menginjak 17 tahun, Aku perlahan mulai mengerti semuanya, kedua orangtuaku bukan tak tega menitipkan aku dipanti asuhan, akan tetapi ibuku menyelamatkan aku dari tangan jahat ayahku.
Namun, saat usiaku menginjak 17 tahun, Aku perlahan mulai mengerti semuanya, kedua orangtuaku bukan tak tega menitipkan aku dipanti asuhan, akan tetapi ibuku menyelamatkan aku dari tangan jahat ayahku.
Seingatku, ketika aku masih tinggal bersama kedua orangtuaku, seringkali aku melihat Ayah memarahi ibu, bahkan Ayah memukul ibu, entah kesalahan apa yang ibu lakukan, aku sendiri tak mengerti karena saat itu usiaku sekitar 7 tahun yang tak mngerti apa-apa. Namun, bukan hanya satu kali atau dua kali aku melihat ayah memarahi atau memukul ibu, bahkan berkali-kali, saat itupun aku ditiipkan ke panti asuhan.
"Maafkan ibu, ibu gak bisa jagain kamu, disini tempat yang aman untukmu, mungkin dilain waktu kita akan bertemu kembali, ibu sayang kamu nak" ucap ibu, ketika ibu melepaskan aku, Aku tidak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi dalam keluargaku? Ayah? Ibu? Kenapa mereka seringkali bertengkar? Apa mungkin karena aku bandel? Atau nakal? Aku tidak tahu!
Saat ini usiaku menginjak 17 tahun, sudah sepuluh tahun aku tak jumpa dengan ibu, bagaimana keadaan ibu saat ini? Entahlah, aku merindukan sesosok ibu dalam hidupku, bahkan sosok Ayah pun, aku merindukannya.
Saat ini usiaku menginjak 17 tahun, sudah sepuluh tahun aku tak jumpa dengan ibu, bagaimana keadaan ibu saat ini? Entahlah, aku merindukan sesosok ibu dalam hidupku, bahkan sosok Ayah pun, aku merindukannya.
Banyak sekali cobaan yang datang silih berganti, aku selalu dihina, dicaci, dimaki, bahkan aku menganggap bahwa diriku tak akan pernah mendapatkan kebahagiaan. Banyak orang melihatku hanya sebelah mata, mereka selalu menilai buku hanya dari covernya bukan isinya, miris! Pandangan mereka sangat buruk terhadapku.
Saat malam tiba, langit yang begitu hitam pekat, ribuan bintang berkelap-kelip cantik dilangit gelap itu, sesekali aku menunjuk salah satu bintang yang paling terang diatas langit itu.
"Jika dalam hidup aku bisa memilih! Aku akan memilih menjadi orang yang lebih baik dari pada saat ini, seperti kebanyakan orang yang dapat merasakan hangatnya kebersamaan didalam sebuah rumah bersama keluarga yang indah dan bahagia.
Namun aku tak pernah mendapatkan kebahagiaan sederhana itu, aku hanya punya rembulan yang selalu menerangi setiap malam-malamku yang gelap gulita, tanpanya(rembulan) hidupku gelap" batinku, menyaksikan bulan dan bintang yang terang dilangit gelap itu.
Kemudian setelah aku puas menikmati langit malam itu, aku bergegas untuk tidur, dan aku selalu berharap setiap malam saat tidur aku akan bertemu dengan Ibu dan Ayah meskipun dalan mimpi, setidaknya aku akan merasa bahagia saat bangun dipagi hari.
Bahkan harapan itu seringkali membuatku kecewa, bukan mimpi bertemu dengan Ayah dan Ibu, justru malah bermimpi soal mereka yang sering menghinaku.
Bahkan harapan itu seringkali membuatku kecewa, bukan mimpi bertemu dengan Ayah dan Ibu, justru malah bermimpi soal mereka yang sering menghinaku.
Namun, seringkali Bu fatma membangunkan aku dari mimpi buruk itu.
"Kehidupan seperti apa yang aku dapat Tuhan?" batinku menjerit, sudah tak lagi terbendung rasa rindu terhadap Ibu dan Ayah, bahkan saat ini aku lupa dengan wajah mereka. Miris!
"Kehidupan seperti apa yang aku dapat Tuhan?" batinku menjerit, sudah tak lagi terbendung rasa rindu terhadap Ibu dan Ayah, bahkan saat ini aku lupa dengan wajah mereka. Miris!
"Kian? Keluarlah nak, ada yang ingin bertemu denganmu." teriak seseorang sambil mengetuk pintu kamarku.
"Iya bu sebentar," ucapku, kemudian aku menemui Bu fatma yang mengetuk pintu kamarku tadi.
"Iya bu sebentar," ucapku, kemudian aku menemui Bu fatma yang mengetuk pintu kamarku tadi.
Setelah aku membuka pintu, bu fatma menampakan wajahnya dengan senyuman yang sangat manis.
"Nak? Kamu cantik pagi hari ini" ucapnya, bu fatma selalu saja memujiku, bu fatma adalah ibu ketua yayasan panti asuhan yang saat ini menjadi tempat tinggalku.
"Ada apa bu?" tanyaku, kemudian bu fatma tersenyum seraya mengelus rambutku.
"Nak? Kamu cantik pagi hari ini" ucapnya, bu fatma selalu saja memujiku, bu fatma adalah ibu ketua yayasan panti asuhan yang saat ini menjadi tempat tinggalku.
"Ada apa bu?" tanyaku, kemudian bu fatma tersenyum seraya mengelus rambutku.
"Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu nak," ucapnya.
Kemudian aku berfikir sejenak, mungkinkan seseorang itu adalah ibuku? Atau ayahku? Atau keduanya? Entahlah,
"Siapa bu?" tanyaku.
"Temui dia didepan, dia ada diruangtamj depan" ucapnya.
Kemudian aku pun langsung menemui seseorang itu, aku terkejut saat tahu siapa seseorang itu.
"Rafa? Kamu Rafael kan?" tanyaku, pada seseorang yang tengah duduk di ruang tamu itu.
"Iyah" ucapnya tersenyum.
"Ngapain kamu disini?" tanyaku.
"Aku kesini, karena aku ingin bertemu denganmu" ucap Rafael tersenyum.
Rafael adalah pria yang baru saja ku kenal 5 bulan terakhir ini, dia adalah seorang mahasiswa juruan teknologi informatika. Awalnya aku menyebutnya dengan sebutan "kakak" namun ia enggan dipanggil dengan sebutan itu, ia memintaku memanggilnya hanya dengan nama saja, huh! Padahal dia lebih tua 2 tahun dari padaku.
Kemudian aku berfikir sejenak, mungkinkan seseorang itu adalah ibuku? Atau ayahku? Atau keduanya? Entahlah,
"Siapa bu?" tanyaku.
"Temui dia didepan, dia ada diruangtamj depan" ucapnya.
Kemudian aku pun langsung menemui seseorang itu, aku terkejut saat tahu siapa seseorang itu.
"Rafa? Kamu Rafael kan?" tanyaku, pada seseorang yang tengah duduk di ruang tamu itu.
"Iyah" ucapnya tersenyum.
"Ngapain kamu disini?" tanyaku.
"Aku kesini, karena aku ingin bertemu denganmu" ucap Rafael tersenyum.
Rafael adalah pria yang baru saja ku kenal 5 bulan terakhir ini, dia adalah seorang mahasiswa juruan teknologi informatika. Awalnya aku menyebutnya dengan sebutan "kakak" namun ia enggan dipanggil dengan sebutan itu, ia memintaku memanggilnya hanya dengan nama saja, huh! Padahal dia lebih tua 2 tahun dari padaku.
"Ingin bertemu?" tanyaku heran.
"Iyah, sejak pertemuan pertama kita sekitar lima bulan yang lalu, hatiku merasakan hal yang aneh, setiap malam aku hanya memikirkanmu saja, bahkan aku sempat tak tidur semalaman karena wajahmu terus-terusan menggangguku, aku fikir, aki merindukanmu" ucapnya, membuatku sedikit terkejut, mungkinkah Rafael mencintaiku?
"Iyah, sejak pertemuan pertama kita sekitar lima bulan yang lalu, hatiku merasakan hal yang aneh, setiap malam aku hanya memikirkanmu saja, bahkan aku sempat tak tidur semalaman karena wajahmu terus-terusan menggangguku, aku fikir, aki merindukanmu" ucapnya, membuatku sedikit terkejut, mungkinkah Rafael mencintaiku?
Awal pertama aku bertemu dengan Rafael, yaaitu ketika aku membeli setangkai bunga anggrek ditoko bunga langganan bu fatma, aku menyukai anggrek. Saat itu, aku tak sengaja menabrak Rafael karena aku fokus dengan anggrek yang kupegang, hingga aku tak melihat lurus kedepan saat berjalan. Kemudian aku dan Rafael berpapasan, sudah seperti adegan sinetron yang romantis itu.
Sejak saat itu, aku dan Rafa berteman baik, hingga kami menyebutnya dengan hubungan persahabatan/teman sejati. Sejak itu pun, ia mengantarkan aku pulang ke panti, namun saat diperjalanan banyak orang yang memusatkan perhatiannya padaku, mereka seperti membicarakanku, mereka menatapku dengan tatapan tidak suka. Apa salahku? Selalu saja orang sekampung bersikap seperti itu
"Ini desa mu?" tanya Rafa.
"Iya, ini desaku, aku tinggal di panti asuhan bumi pertiwi, sejak umurku 7 tahun aku tinggal disini." ucapku.
"Kamu anak panti asuhan? Kamu seorang yatim piatu?" tanyanya.
"Aku bahkan tidak tahu aku yatim piatu atau bukan, yang aku tahu orang-orang dikampung ini selalu membicarakan hal buruk tentangku!" ucapku.
"Hal buruk? Pantas saja mereka melihatmu seperti itu" ucapnya.
"Iyah,"
"Tapi kamu adalah wanita yang hebat menurutku, bisa menjalani kehidupan yang sepahit ini" ucapnya.
Begitulah pertemuan pertamaku dengan Rafa, mungkin sejak itu kita berteman dengan baik. Rafa selalu memujiku, ia selalu membicarakan hal baik mengenaiku, aku rasa didunia ini yang melihatku dengan baik hanya dua orang, bu Fatma dan Rafa. Beruntung aku mengenal mereka.
Kembali ke Rafa, yang saat ini tengah berada diruang tamu.
"Iyah, aku ingin bertemu denganmu, sepagi ini! Karena aku baru saja menyelesaikan misi ku 2 minggu terakhir ini!" ucap Rafa, membicarakan soal misi yang sebelumnya aku tak tahu.
"Misi?" tanyaku.
"Iyah, setelah kamu menceritakan semuanya kepadaku, kemudian aku mencari tahu tentang keberadaan kedua orangtuamu" jelas Rafa.
"Kamu tahu dimana kedua orangtuaku?"
"Ya! Bahkan aku tahu dimana rumahmu yang dulu!"
"Apa kamu akan mengantarkanku kesana?"
"Tentu saja!"
Kemudian aku berpamitan pada Fatma, aku akan pergi dengan Rafa ke tempat dimana ibu dan ayahku tinggal. Mungkin ini adalah hari bahagiaku, hari yang paling aku tunggu-tunggu. Tuhan? Terimakasih, mungkin setelah ini aku akan memdapatkan keluargaku kembali.
Setelah sampai ditempat yang dituju, Rafa menunjukan sebuah rumah tua dengan design yang kuno, mungkin itu adalah rumahku? Namun terlihat rumah itu sangat berantakan, sangat usang dan penuh debu.
"Ini desa mu?" tanya Rafa.
"Iya, ini desaku, aku tinggal di panti asuhan bumi pertiwi, sejak umurku 7 tahun aku tinggal disini." ucapku.
"Kamu anak panti asuhan? Kamu seorang yatim piatu?" tanyanya.
"Aku bahkan tidak tahu aku yatim piatu atau bukan, yang aku tahu orang-orang dikampung ini selalu membicarakan hal buruk tentangku!" ucapku.
"Hal buruk? Pantas saja mereka melihatmu seperti itu" ucapnya.
"Iyah,"
"Tapi kamu adalah wanita yang hebat menurutku, bisa menjalani kehidupan yang sepahit ini" ucapnya.
Begitulah pertemuan pertamaku dengan Rafa, mungkin sejak itu kita berteman dengan baik. Rafa selalu memujiku, ia selalu membicarakan hal baik mengenaiku, aku rasa didunia ini yang melihatku dengan baik hanya dua orang, bu Fatma dan Rafa. Beruntung aku mengenal mereka.
Kembali ke Rafa, yang saat ini tengah berada diruang tamu.
"Iyah, aku ingin bertemu denganmu, sepagi ini! Karena aku baru saja menyelesaikan misi ku 2 minggu terakhir ini!" ucap Rafa, membicarakan soal misi yang sebelumnya aku tak tahu.
"Misi?" tanyaku.
"Iyah, setelah kamu menceritakan semuanya kepadaku, kemudian aku mencari tahu tentang keberadaan kedua orangtuamu" jelas Rafa.
"Kamu tahu dimana kedua orangtuaku?"
"Ya! Bahkan aku tahu dimana rumahmu yang dulu!"
"Apa kamu akan mengantarkanku kesana?"
"Tentu saja!"
Kemudian aku berpamitan pada Fatma, aku akan pergi dengan Rafa ke tempat dimana ibu dan ayahku tinggal. Mungkin ini adalah hari bahagiaku, hari yang paling aku tunggu-tunggu. Tuhan? Terimakasih, mungkin setelah ini aku akan memdapatkan keluargaku kembali.
Setelah sampai ditempat yang dituju, Rafa menunjukan sebuah rumah tua dengan design yang kuno, mungkin itu adalah rumahku? Namun terlihat rumah itu sangat berantakan, sangat usang dan penuh debu.
Aku berfikir sejenak, apakah ibu dan ayahku tinggal dirumah sekotor ini?
Kemudian aku langsung mengetuk pintu rumahku. Namun, tak ada jawaban. Tuhan? Tolonglah aku ingin bertemu dengan mereka.
"Ada hal yang tidak kamu ketahui" ucap Rafael.
"Apa?"
"Rumah ini tidak terkunci, ayo sebaiknya kita masuk, mungkin ada sesuatu didalam yang dapat kamu pahami" ajak Rafael.
Tanpa fikir panjang, aku langsung memasuki rumah tua itu, terlihat semua barang-barang disini telah usang dan berdebu.
"Ibu? Ayah?" aku seolah mencari mereka.
Namun, saat itu pandanganku tertuju pada sebuah tanaman anggrek, terdapat sebuah surat kecil yang menggantung pada tangkainya. Kemudian aku langsung membaca suratnya.
"Kian anakku sayang, bukan maksud ibu membuangmu kepanti asuhan, dan jangan kamu berfikir buruk soal ayahmu, perekonomian yang membuat kita selalu bertengkar, hingga ayah dan ibu tak sanggup membesarkanmu, hanya setangkai bungan anggrek yang akan layu ini, yang mampu menguatkan ibu dalam kondisi seperti ini, karena anggrek adalah bunga kesukaan ibu, ibu bahagia memiliki anggrek, karena kamu tidak bersama ibu lagi, anggrek ini yang setia menemani ibu.. Demi Kian, ibu sayang Kian, ibu mencintai kian, " begitulah isi surat yang ibu tulis untukku sekitar 9 tahun lalu, karena surat ini penuh debu, dan anggrek ini pun sudah layu.
"Lalu kemana ibu?" tanyaku, mataku mulai berkaca-kaca.
"Akan aku antarkan!" ucap Rafael.
Kemudian aku mengikutu Rafa menuju tempat yang ia ketahui keberadaan ibu dan ayahku. Kemudian, aku membawa setangkai anggrek yang layu itu, aku memegangnya erat, ini adalah bunga kesukaan ibu.
Saat itu disuatu tempat, aku sempat bingung dan shock! Rafa membawaku pada sebuah penginapan terakhir manusia. Dimana lagi? Yap! Pemakamanan!
"Kenapa kamu membawaku kesini?" tanyaku.
"Ini adalah 2 makan sepasang suami istri, ini adalah makan ibu dan ayah kamu" ucapnya, membuat lututku bergetas, membuat airmataku jatuh, membuat hati ini sakit mendengarnya. Tuhan? Belum mengizinkan aku bertemu dengan mereka, saat aku mengetahui alasannya, Tuhan lebih dulu memanggil mereka.
"Ibuuuuu, ayyahhh, aku kembalii....." tangisanku keluar diatas nisan ayah dan ibuku. Kemudian Rafa berusaha menenangkan aku agar aku tak serapuh ini.
Bagaiamanapun, aku sangat meyayangi kedua orangtuaku, walaupun aku tidak dibesarkan oleh mereka, setidaknya aku hidup karena ada mereka, mereka yang memberiku kehidupan, mereka yang memberiku dunia, dan mereka yang mengenalkan dunia padaku.
Tapi belum sempat aku membuat mereka bahagia, setidaknya membuat mereka tersenyumpun aku tidak pernah, namun, Tuhan lebih dulu memanggilnya.
Mungkin ibu dan ayah menjadi bagian dari bintang-bintang malam, yang sering kulihat saat malam dilangit gelap itu. Aku tahu ibu dan Ayah menginginkan aku bahagia disini, hingga Tuhan mengirimkan dua orang yang paling baik dalam hidupku, yaitu Rafael dan Bu fatma.
Kemudian aku langsung mengetuk pintu rumahku. Namun, tak ada jawaban. Tuhan? Tolonglah aku ingin bertemu dengan mereka.
"Ada hal yang tidak kamu ketahui" ucap Rafael.
"Apa?"
"Rumah ini tidak terkunci, ayo sebaiknya kita masuk, mungkin ada sesuatu didalam yang dapat kamu pahami" ajak Rafael.
Tanpa fikir panjang, aku langsung memasuki rumah tua itu, terlihat semua barang-barang disini telah usang dan berdebu.
"Ibu? Ayah?" aku seolah mencari mereka.
Namun, saat itu pandanganku tertuju pada sebuah tanaman anggrek, terdapat sebuah surat kecil yang menggantung pada tangkainya. Kemudian aku langsung membaca suratnya.
"Kian anakku sayang, bukan maksud ibu membuangmu kepanti asuhan, dan jangan kamu berfikir buruk soal ayahmu, perekonomian yang membuat kita selalu bertengkar, hingga ayah dan ibu tak sanggup membesarkanmu, hanya setangkai bungan anggrek yang akan layu ini, yang mampu menguatkan ibu dalam kondisi seperti ini, karena anggrek adalah bunga kesukaan ibu, ibu bahagia memiliki anggrek, karena kamu tidak bersama ibu lagi, anggrek ini yang setia menemani ibu.. Demi Kian, ibu sayang Kian, ibu mencintai kian, " begitulah isi surat yang ibu tulis untukku sekitar 9 tahun lalu, karena surat ini penuh debu, dan anggrek ini pun sudah layu.
"Lalu kemana ibu?" tanyaku, mataku mulai berkaca-kaca.
"Akan aku antarkan!" ucap Rafael.
Kemudian aku mengikutu Rafa menuju tempat yang ia ketahui keberadaan ibu dan ayahku. Kemudian, aku membawa setangkai anggrek yang layu itu, aku memegangnya erat, ini adalah bunga kesukaan ibu.
Saat itu disuatu tempat, aku sempat bingung dan shock! Rafa membawaku pada sebuah penginapan terakhir manusia. Dimana lagi? Yap! Pemakamanan!
"Kenapa kamu membawaku kesini?" tanyaku.
"Ini adalah 2 makan sepasang suami istri, ini adalah makan ibu dan ayah kamu" ucapnya, membuat lututku bergetas, membuat airmataku jatuh, membuat hati ini sakit mendengarnya. Tuhan? Belum mengizinkan aku bertemu dengan mereka, saat aku mengetahui alasannya, Tuhan lebih dulu memanggil mereka.
"Ibuuuuu, ayyahhh, aku kembalii....." tangisanku keluar diatas nisan ayah dan ibuku. Kemudian Rafa berusaha menenangkan aku agar aku tak serapuh ini.
Bagaiamanapun, aku sangat meyayangi kedua orangtuaku, walaupun aku tidak dibesarkan oleh mereka, setidaknya aku hidup karena ada mereka, mereka yang memberiku kehidupan, mereka yang memberiku dunia, dan mereka yang mengenalkan dunia padaku.
Tapi belum sempat aku membuat mereka bahagia, setidaknya membuat mereka tersenyumpun aku tidak pernah, namun, Tuhan lebih dulu memanggilnya.
Mungkin ibu dan ayah menjadi bagian dari bintang-bintang malam, yang sering kulihat saat malam dilangit gelap itu. Aku tahu ibu dan Ayah menginginkan aku bahagia disini, hingga Tuhan mengirimkan dua orang yang paling baik dalam hidupku, yaitu Rafael dan Bu fatma.
End
Kunjungi link blog leni : http://bioskopcerpen98.blogspot.com

Silahkan berkomentar tetapi jangan spam
EmoticonEmoticon